KEGELISAHAN DI BALIK
TERBUNUHNYA FAREL
Setelah empat setengah tahun saya menjadi jurnalis,
baru kali ini saya tertarik mengabadikan cerita sekaligus pengalaman hasil dari
liputan saya di bidang kriminal (crime).
Tepatnya sabtu, 16 januari 2016 sekitar pukul 19.00
WIB saya meliput kasus pembunuhan yang dialami Farel, anak kelas satu S-M-P
berwajah tampan dan pandai di sekolahnya. Farel ditemukan tergeletak di kamar
mandinya berikut lumuran darah. Pisau yang digunakan pelaku dengan mudahnya
dihujamkan ke tubuh pria mungil ini sebanyak enam kali, yakni empat tusukan di
perut, satu di lengan dan satunya lagi di dekat telinga.
Entah apa yang ada di benak pelaku. Meski sejatinya
saya sangat mengecam keras perbuatan pelaku, tetapi itu tidak boleh
mempengaruhi konten berita yang saya buat. Saya pun tetap bersikap netral dan
lagi-lagi menulis berdasatkan fakta.
Meninggalkan sisi itu, ada hal lain yang membuat mata
tiba-tiba berkaca-kaca. Dimana ketika saya menyaksikan sang ayah yang baru tiba
di rumahnya. Ia berusaha tegar melihat jalanan dan gang rumahnya dipenuhi oleh
kerumunan warga. Ia berusaha menerobos garis polisi yang terpampang di
pelataran dan berusaha masuk ke dalam rumah mungilnya tersebut. Ayah itu
rupanya emosi ketika tak diperbolehkan memasuki rumahnya lantaran anaknya masih
dalam proses identifikasi kepolisian. Sang ayah dengan terpaksa memundurkan
langkah kakinya berikut raut wajah yang kesal karena tidak diperbolehkan
melihat buah hatinya untuk terakhir kali.
Sembari merekam peristiwa tersebut, terlintas di benak
saya bahwa seolah saya adalah ayah korban (farel). Saya berfikir bahwa setiap
hari saya rela bekerja berangkat pagi pulang malam semata untuk membahagiakan
keluarga terutama anak semata wayang (farel). Tak ada angin maupun hujan,
tiba-tiba saya dihadapkan dengan anak tercinta saya yang dalam kondisi terbujur
kaku, bersimbah darah, dikerumuni ratusan orang yang juga sempat
mengumandangkan shalawat sesekali. Mungkin bukan hanya berteriak, bisa juga hal
buruk akan saya lakukan seperti misalnya mencari pelaku yang melarikan diri
kemudian memperlakukannya layaknya yang diperlakukan dia kepada anak saya
(membunuh).
Tapi apalah arti semua itu, ini hanyalah fakta dan
pelajaran yang diberikan Tuhan untuk kemudian saya tulis menjadi informasi yang
bermanfaat bagi khalayak. Beban moral serta tekanan yang juga mengusik psikis
tak jarang saya alami setiap melakukan tugas jurnalistik semacam ini. Saya
menikmati.
Tak berhenti di situ, di Tempat Kejadian Perkara (TKP)
tak lupa saya mewawancarai salah seorang saksi mata yaitu tetangga korban.
Bukan makna bahasa yang wanita itu ucapkan yang ingin saya tulis di sini. Yaitu
ketika saya sedang mengedit video wawancara tersebut, sebuah kalimat terakhir
keluar dari mulut wanita yang menjadi narasumber saya. Anehnya, suara yang
semula normal (suara wanita), tiba-tiba berubah menjadi suara seorang laki-laki
yang pastinya berbeda pada saat saya dengar di TKP. Karena penasaran saya pun
menambah volume laptop hingga full, bahkan sampai memasang headset agar dapat
mendengar suara narasumber saya dengan jelas. Tapi apa? Suara kalimat terakhir
itu masih tetap suara seorang laki-laki. Tak banyak yang bisa saya lakukan,
saya tidak mau berlama-lama mengedit video itu dan memilih mengirimnya ke Server
Redaksi (RTV).
Semua yang saya lihat, semua yang saya rasakan dan
semua yang saya tulis adalah karena izin Allah. Hidup bukan untuk bahagia
sendiri, melainkan membahagiakan siapa saja yang patut dibahagiakan. F-A

Tidak ada komentar:
Posting Komentar